Gedung Tua
Senja itu kau duduk seorang diri di gedung tua, gedung hancur yang penuh sampah dan puing-puing sisa pembangunan. Kau berangan-angan mengingat semua kenangan manis itu. Membayangkan ketika kau dan aku masih berada di alam yang sama...bermain, dan berbagi cerita sepanjang hari. Kita masih saling mengenal satu sama lain, dan yang kita tahu hanya bermain dan tertawa.
Sampai suatu ketika...dimana saat-saat terakhir kau dan aku bersama tidak akan terjadi lagi. Aku yang menyelamatkanmu tidak akan bisa membiarkan mobil itu merenggutmu dariku. Namun, takdir berkata lain. Aku yang harus pergi meninggalkanmu dengan cara yang tidak semua orang inginkan.
Tepat di hari ulang tahunmu yang ke 15, kau dan keluargaku mengantarkanku ke tempat peristirahatan terakhirku tepat di sebelah gedung tua itu. Semua merelakanku dengan perlahan dan terus melanjutkan hari tanpaku, kecuali dirimu.
Setiap hari kau mengunjungiku dan menceritakan hari-hari yang kau jalani tanpa diriku. Tetapi, hal itu berubah semenjak kau mempunyai rumah tangga. Batu nisanku penuh dengan dedauan, rumputnya mulai meninggi sehingga tak ada seorangpun yang melihat tempat peristirahatanku. Bunganya layu dan kering, tidak seperti waktu kau selalu rajin menggantinya. Kini aku benar-benar sendiri, tak terawat lagi seperti gedung tua yang menjadi saksi bisu kebersamaan kita.
Sampai suatu ketika...dimana saat-saat terakhir kau dan aku bersama tidak akan terjadi lagi. Aku yang menyelamatkanmu tidak akan bisa membiarkan mobil itu merenggutmu dariku. Namun, takdir berkata lain. Aku yang harus pergi meninggalkanmu dengan cara yang tidak semua orang inginkan.
Tepat di hari ulang tahunmu yang ke 15, kau dan keluargaku mengantarkanku ke tempat peristirahatan terakhirku tepat di sebelah gedung tua itu. Semua merelakanku dengan perlahan dan terus melanjutkan hari tanpaku, kecuali dirimu.
Setiap hari kau mengunjungiku dan menceritakan hari-hari yang kau jalani tanpa diriku. Tetapi, hal itu berubah semenjak kau mempunyai rumah tangga. Batu nisanku penuh dengan dedauan, rumputnya mulai meninggi sehingga tak ada seorangpun yang melihat tempat peristirahatanku. Bunganya layu dan kering, tidak seperti waktu kau selalu rajin menggantinya. Kini aku benar-benar sendiri, tak terawat lagi seperti gedung tua yang menjadi saksi bisu kebersamaan kita.
Komentar
Posting Komentar