Risalah Hati
Dalam kesunyian aku bermimpi, dalam kehampaan aku bertanya. Dan disaat itulah aku merasakan perasaan yang hilang dan pergi begitu cepatnya. Sesuatu yang selalu kudapatkan jika aku ada didekatmu.
365 hari yang kulewati, hanya hari-hari semu tanpa cerita bahagia didalamnya. Mengapa? Hal ini sungguh berlebihan. Aku selalu meremehkan segala perasaan buruk yang menghampiriku, tapi tidak untuk hal ini. Aku dapat menyembunyikannya, tetapi tidak dapat menghilangkannya. Perasaan itu memaksaku berpikir lebih keras dari mengerjakan sebuah soal fisika.
Kau selalu muncul dalam waktuku, bersama cerita-cerita lalu yang pernah kau lukiskan dalam lembaran hidupku. Kau mengingatkanku betapa sulitnya menghapus semua perasaan itu. Membuatku tersesat dalam perasaan yang kuciptakan tanpa ku sadari.
Kini aku kehilangan arah. Berada di satu titik yang rapuh dan tidak tahu akan melangkah kemana. Mengharapkan yang tidak pasti, dan tak akan terjadi untuk kedua kalinya. Bersama perasaan itu aku menunggu...walaupun aku sama sekali tidak tahu apa yang akan terjadi pada akhirnya.
365 hari yang kulewati, hanya hari-hari semu tanpa cerita bahagia didalamnya. Mengapa? Hal ini sungguh berlebihan. Aku selalu meremehkan segala perasaan buruk yang menghampiriku, tapi tidak untuk hal ini. Aku dapat menyembunyikannya, tetapi tidak dapat menghilangkannya. Perasaan itu memaksaku berpikir lebih keras dari mengerjakan sebuah soal fisika.
Kau selalu muncul dalam waktuku, bersama cerita-cerita lalu yang pernah kau lukiskan dalam lembaran hidupku. Kau mengingatkanku betapa sulitnya menghapus semua perasaan itu. Membuatku tersesat dalam perasaan yang kuciptakan tanpa ku sadari.
Kini aku kehilangan arah. Berada di satu titik yang rapuh dan tidak tahu akan melangkah kemana. Mengharapkan yang tidak pasti, dan tak akan terjadi untuk kedua kalinya. Bersama perasaan itu aku menunggu...walaupun aku sama sekali tidak tahu apa yang akan terjadi pada akhirnya.
Komentar
Posting Komentar